3 Macam Kesabaran Menurut Al-Imam Al-Ghazali dalam Karyanya Mukasyafatul Qulub

Salah satu kegiatan rutin di Pondok Modern Darussalam Sukaraja adalah tau’iyyah diniyyah yang diadakan setiap hari rabu ba’da maghrib. Hari ini (15/5/2024), telah terlaksana tau’iyyah diniyyah di Pondok Modern Darussalam Sukaraja untuk pertama kalinya pada tahun ajaran baru ini.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh santri dan asatidz. Pada kesempatan ini, Al-Ustadz K.H. Muhammad Zakiyaman, M.Pd., Pimpinan Pondok Modern Darussalam Sukaraja mengkaji kitab Mukasyafatul Qulub karya Al-Imam Al-Ghazali. Bab Fii Ash-Sabr wa al-Maradl (sabar dan sakit) adalah tema yang diangkat pada tau’iyyah diniyah kali ini.

“Barang siapa ingin selamat dari adzab Allah SWT, ingin mendapatkan pahala serta rahmat-Nya, dan ingin masuk surga-Nya, maka harus bisa menjaga dirinya dari nafsu dunia. Tidak hanya itu, dia juga harus sabar atas semuanya itu.” Al-Ustadz Zaki membuka tau’iyyah dengan menerjemahkan paragraf pertama dari bab Fii ash-Shabr wa al-Maradl.

Lebih lanjut, Al-Imam Al-Ghazali dalam kitabnya itu menerangkan ada 3 macam kesabaran: Kesabaran terhadap ketaatan kepada Allah, Kesabaran atas apa-apa yang diharamkan oleh Allah, dan terakhir kesabaran atas musibah yang diterima oleh hamba-Nya.

Ketiga macam kesabaran itu ternyata ada keistimewaan dan pahalanya masing-masing. Di paragraf selanjutnya, Al-Ustadz Zaki melanjutkan penjelasan dari buku tersebut bahwa barang siapa yang dapat bersabar terhadap ketaatannya kepada Allah, maka Allah akan memberikannya 300 derajat di surga kelak. Sedangkan setiap derajat itu tingginya sama seperti jaraknya langit dan bumi.

Sedangkan yang dapat bersabar atas keharaman yang Allah larang, maka Allah akan berikan ia 600 derajat, dan setiap derajat tingginya sama seperti jarak antara langit ketujuh dan bumi ketujuh.

Adapun orang yang mampu bersabar atas musibah yang ia timpa, maka Allah akan berikan ia 700 derajat. Tinggi setiap derajatnya antara arsy dan bumi yang paling dalam.

Di akhir, Al-Ustadz Zakiyaman mengingatkan santri-santrinya agar hati-hati dengan hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT. Juga menasehati agar selalu bersabar atas setiap musibah yang diterima. Karena senjata seorang muslim itu 2: bersyukur dan bersabar. Bersyukur saat mendapat nikmat, dan bersabar saat ditimpa musibah. Lebih baik lagi jika tetap bersyukur pada dua kondisi tersebut.

Red: Ahmad Kali Akbar | Ph: Hafidz Alif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *