Darussalam Sukaraja – Hari ini merupakan hari bersejarah bagi Pondok Modern Darussalam Sukaraja. Memasuki tahun ke-empat dari berdirinya yaitu tahun 2021, hari ini, Pondok Modern Darussalam Sukaraja telah sukses menggelar praktek mengajar atau yang biasa dikenal at-tarbiyah al-‘amaliyyah perdana bagi santri kelas 6 Kulliyatu-l-Mu’allimin al-Islamiyyah (26/12/2024).

Rentetan At-Tarbiyah Al-‘Amaliyyah ini berlangsung dalam waktu sepekan, dimulai dari pengarahan at-tarbiyah al-‘amaliyyah dari Pimpinan Pondok dan Direktur KMI, dilanjutkan dengan penulisan i’dad at-tadris (materi ajar), bimbingan dengan pembimbing dan selanjutnya praktik mengajar.

Yusril Fauzan Hakim terpilih menjadi yang pertama tampil dalam praktik mengajar ini. Ia memdapatkan materi Muthala’ah kelas 2 KMI dengan judul Abdullah wa al-‘Ushfur 1. Pukul 07.30 tepat santri dan asatidz sudah siap di kelas yang sudah disediakan. Santri kelas 2 duduk rapi berseragam putih dan berkopiah. Sedangkan para kelas 6 dan asatidz tegap berdiri menjadi muntaqid (pengawas dan pengoreksi). Adapun santri kelas 6 KMI lainnya, Bagas Amar Syahruddin dan Hasbi Huzaeri akan melaksanakan praktik mengajar pada sabtu dan ahad mendatang.


Praktik mengajar berlangsung kurang lebih 1 jam dan dilanjutkan dengan dars an-naqd atau yang biasa dikenal dengan perkumpulan untuk menyampaikan koreksian mengajar dari pembimbing, asatidz juga kelas 6 yang menjadi pengawas.

At-Tarbiyah Al-‘Amaliyyah ini sendiri merupakan salah satu dari rentetan ujian kelas 6 KMI sebelum memasuki ujian lisan, ujian tulis, pembekalan, ar-rihlah al-iqtishadiyyah, penulisan paper, khutbat al-wada’, dan lain sebagainya. Selain itu, ini akan menjadi bekal bagi mereka agar menjadi guru yang profesional sesuai dengan standar Pondok Modern Darussalam Sukaraja.

Sebagaimana falsafah Pondok Modern Darussalam Sukaraja yang juga falsafah di Pondok Modern Darussalam Gontor, bahwasanya Ath-thariqatu ahammu min al-maaddah, wa al-mudarris ahammu min at-thariqah, wa ruuh al-mudarris ahammu min al-mudarris nafsihi. Metode itu lebih penting daripada bahan ajar, dan guru lebih penting dari metode, sedangkan jiwa guru itu jauh lebih penting dari guru itu sendiri.
