Ujian untuk Belajar, Bukan Belajar untuk Ujian

Darussalam Sukaraja – Saat ini, santri kelas 1 sampai 4 tengah melaksanakan ujian tulis di Pondok Modern Darussalam Sukaraja. Siswa akhir kelas 6 KMI sibuk menjadi pengawas dan menjadi panitia serta bertugas di unit-unit usaha pondok. Para asatidz juga tak luput dari tugasnya mengoreksi lembar jawaban ujian, menjaga sektor pondok, dan lain-lain.

“Ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian”, inilah salah satu falsafah Pondok Modern Darussalam Sukaraja, yang juga diambil dari falsafah Pondok Modern Darussalam Gontor. Banyak diantara siswa yang tujuan dari belajarnya bukan untuk mengambil sebanyak-banyaknya ilmu, tapi hanya sekedar agar mendapatkan nilai yang tinggi. Maka, ini tidak dibenarkan.

Namun sebaliknya, ujian harus dijadikan sebagai wasilah atau motivasi untuk meningkatkan belajar. Dengan ujian, santri lebih banyak belajar. Bukan hanya belajar pelajaran di kelas, namun juga santri belajar melatih mental, menguji kesabaran dirinya sendiri, belajar menahan emosi dalam kondisi yang serba tegang, belajar membagi waktu yang terasa begitu sempit karena sibuk belajar. Juga belajar bagaimana cara belajar yang baik, bagaimana cara menghafal yang cepat masuk, dan masih banyak lagi hal yang dapat dipelajari dengan adanya ujian.

Dahulu ada santri di Pondok Modern Darussalam Gontor yang dari kelas 1 sampai kelas 5 kesulitan dalam belajar. Namun saat naik kelas 6, di ditempatkan di kelas atas. Ternyata, santri ini baru menemukan metode belajar yang tepat untuknya setelah 5 tahun perjalanan belajar dan ujian di pondok.

Ujian merupakan situasi yang dapat menentukan siapa saja yang akan menjadi mulia karena ujian tersebut, atau malah sebaliknya dia akan menjadi hina karenanya. Bil imtihaani yukramul mar’u aw yuhaanu. Dengan ujian, seseorang akan menjadi mulia, atau menjadi hina.

Yang akan menjadi mulia adalah mereka yang memanfaatkan waktu ujian ini dengan sebaik-baiknya. Belajar sungguh-sungguh dan tidak bermalas-malasan, tidak pula meremehkan. Salah satu tanda meremehkan ujian adalah dengan tidak sungguh-sungguh dalam belajar.

Sebaliknya, yang menjadi hina dengan ujian adalah mereka yang malas belajar. Selain itu, mereka yang melakukan curang dalam ujian juga akan terhina. Hina karena dia tidak percaya diri dengan kemampuannya sendiri dan bergantung kepada orang lain. Hina karena dia melakukan tindakan yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang santri. Maka, orang-orang demikian termasuk orang yang akan terhina dengan adanya ujian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *