Majalengka – Gemuruh tepuk tangan ratusan penonton memenuhi GOR Desa Sukaraja Kulon, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, pada Rabu, 22 Juli 2026 bertepatan dengan 7 Shafar 1448 H. Hari itu, Pondok Modern Darussalam Sukaraja sukses menggelar Pentas Seni Pondok Modern Darussalam Sukaraja 2026, sebuah perhelatan tahunan yang tidak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga menjadi panggung pembuktian hasil pendidikan karakter yang diterapkan di lingkungan pesantren.
Sejak sehari sebelum acara dimulai, kemegahan panggung telah berdiri kokoh menghiasi GOR Desa Sukaraja Kulon. Tata panggung yang megah dipadukan dengan tata cahaya dan dekorasi yang elegan menghadirkan suasana semarak, sekaligus menjadi simbol kesungguhan para santri dalam mempersiapkan acara yang telah dinanti masyarakat.

Sejak pagi hari, para tamu undangan mulai berdatangan dan menempati tempat duduk yang telah disediakan. Hadir dalam kesempatan tersebut Pimpinan Pondok Modern Darussalam Sukaraja, perwakilan Bupati Majalengka, Camat Jatiwangi, para pimpinan pesantren, kepala MI, SD, MTs, dan SMP beserta para siswanya, pengurus IKPM Gontor Cabang Majalengka, para wali santri, serta masyarakat yang memadati lokasi acara.
Sembari menunggu seluruh tamu hadir, grup hadrah santri membuka suasana dengan lantunan shalawat yang menenangkan. Acara kemudian resmi dimulai dengan penampilan Master of Ceremony (MC) tiga bahasa—Arab, Inggris, dan Indonesia—yang tampil penuh percaya diri, komunikatif, dan memukau. Kepiawaian para santri membawakan acara dalam tiga bahasa sekaligus mendapat apresiasi dari para tamu undangan dan penonton.
Rangkaian acara diawali dengan sambutan Ketua Panitia Pentas Seni, dilanjutkan sambutan dari perwakilan Bupati Majalengka, Bapak Taswara, S.Sos., M.I.Kom., Camat Jatiwangi Bapak Anung Ilha Ilyaharja, A.Md., LLAJ., S.Sos., M.Si., Kp., serta ditutup dengan sambutan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Sukaraja, Al-Ustadz Muhammad Zakiyaman, M.Pd.I.

Dalam sambutannya, perwakilan Bupati Majalengka menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Pentas Seni Pondok Modern Darussalam Sukaraja. Menurutnya, kegiatan semacam ini memiliki peran strategis dalam membangun karakter generasi muda sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat.
Ia menuturkan bahwa Desa Sukaraja kini menjadi salah satu daerah yang banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai wilayah. Karena itu, masyarakat harus mampu menjaga nilai-nilai budaya dan karakter yang dimiliki agar tidak tergerus oleh pengaruh luar.
“Kegiatan seperti ini sangat membantu membangun karakter para santri maupun masyarakat sekitar. Ketika sebuah daerah mulai banyak didatangi orang dari berbagai daerah, maka budaya dan identitas masyarakat harus tetap dijaga agar tidak hilang oleh arus perubahan,” ungkapnya.

Sementara itu, Camat Jatiwangi, Bapak Anung Ilha Ilyaharja, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya terhadap perkembangan Pondok Modern Darussalam Sukaraja yang dinilai telah memberikan kontribusi besar bagi dunia pendidikan Islam di Kecamatan Jatiwangi.
Beliau menegaskan bahwa pemerintah kecamatan akan terus mendukung hadirnya lembaga pendidikan Islam yang mampu mencetak generasi muda berakhlak mulia, berwawasan luas, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Sambutan terakhir disampaikan oleh Pimpinan Pondok Modern Darussalam Sukaraja, Al-Ustadz Muhammad Zakiyaman, M.Pd.I. Dalam pesannya, beliau menegaskan bahwa Pentas Seni bukan sekadar pertunjukan, tontonan, ataupun hiburan semata, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan pesantren.
Menurut beliau, pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas ketika guru menyampaikan materi pelajaran. Seluruh aktivitas santri selama dua puluh empat jam merupakan proses pendidikan yang dirancang secara menyeluruh.
“Pendidikan bukan hanya apa yang diajarkan guru di dalam kelas. Apa yang mereka dengar, apa yang mereka ucapkan, apa yang mereka lakukan, semuanya adalah pendidikan. Di pondok ini ada olahraga, seni, bela diri, komputer, kaligrafi, organisasi, kepemimpinan, dan berbagai kegiatan lainnya. Semuanya merupakan bagian dari kurikulum pendidikan yang kami sebut sebagai kurikulum holistik, pendidikan selama 24 jam tanpa henti,” jelas beliau.
Beliau juga mengungkapkan bahwa seluruh rangkaian Pentas Seni tersebut dipersiapkan, dikelola, hingga dipimpin oleh para santri yang masih berusia belasan tahun. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa pesantren memberikan kepercayaan penuh kepada santri untuk belajar memimpin, bekerja sama, bertanggung jawab, dan mengembangkan potensi diri melalui pengalaman langsung.



Usai rangkaian sambutan, pertunjukan seni dimulai dengan Grand Opening yang spektakuler. Penampilan pembuka tersebut berhasil membangkitkan semangat penonton melalui koreografi yang rapi, permainan cahaya yang memukau, serta semangat para santri yang tampil penuh percaya diri.
Suasana semakin semarak ketika grup musik Harmoni Darussalam membawakan tiga lagu dengan aransemen yang indah dan menenangkan. Penampilan tersebut berhasil menciptakan suasana hangat sekaligus menunjukkan kemampuan seni musik para santri.


Beragam tarian daerah turut memukau para hadirin. Mulai dari Tari Aceh, tari Campursari, Tari Sunda, hingga berbagai kreasi tari nusantara lainnya yang ditampilkan dengan kostum penuh warna dan gerakan yang harmonis. Penampilan ini menjadi bukti bahwa pesantren tidak hanya mendidik ilmu agama, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap budaya bangsa.
Gelak tawa penonton pecah ketika penampilan Stand Up Comedy mengangkat kisah-kisah ringan kehidupan santri di pesantren. Cerita yang dekat dengan keseharian membuat para hadirin larut dalam suasana penuh keakraban.
Tak kalah menghibur, pertunjukan pantomim sukses membuat seluruh penonton terpingkal-pingkal. Tanpa sepatah kata pun, para pemain mampu menyampaikan cerita dengan ekspresi dan gerakan yang begitu komunikatif sehingga mengundang tawa sekaligus kekaguman.


Salah satu penampilan yang paling menegangkan adalah atraksi seni bela diri yang diperagakan para santri. Mengenakan seragam hijau yang gagah, mereka menampilkan berbagai teknik pencak silat dengan penuh ketangkasan dan disiplin. Gerakan yang cepat, kompak, serta penggunaan berbagai senjata tradisional berhasil menghadirkan suasana dramatis yang memancing decak kagum penonton. Atraksi tersebut menggambarkan semangat keberanian, kedisiplinan, dan kesiapsiagaan generasi muda dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Selain itu, masih banyak penampilan menarik lainnya yang menunjukkan kreativitas, bakat, dan kemampuan para santri dalam berbagai bidang seni dan keterampilan.


Sebagai penutup, panggung Pentas Seni menghadirkan drama kabaret yang mengisahkan perjalanan seorang santri sejak pertama kali menginjakkan kaki di Pondok Modern Darussalam Sukaraja hingga berhasil menjadi alumni yang sukses mengabdikan diri di tengah masyarakat sesuai bidangnya masing-masing. Alur cerita yang sarat makna, dipadukan dengan akting yang natural dan penuh humor, membuat penonton larut dalam suasana haru sekaligus bangga.


Pentas Seni Pondok Modern Darussalam Sukaraja 2026 kembali menegaskan bahwa pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu agama, melainkan lembaga pendidikan yang membentuk manusia secara utuh. Melalui seni, budaya, kepemimpinan, olahraga, dan berbagai aktivitas lainnya, para santri dididik menjadi generasi yang beriman, berilmu, berkarakter, kreatif, serta siap memberikan kontribusi bagi agama, bangsa, dan masyarakat.

Lebih dari sekadar sebuah pertunjukan, Pentas Seni menjadi cerminan nyata filosofi pendidikan Pondok Modern Darussalam Sukaraja: seluruh aktivitas adalah pendidikan, dan setiap momentum adalah proses pembentukan karakter.
