Kuliah Umum Babak ke-1; Motto Pondok Menjadi Bekal Hidup di Masyarakat

Darussalam Sukaraja – Usai upacara apel tahunan, santri dan asatidz KMI Pondok Modern Darussalam Sukaraja berkumpul di masjid untuk mengikuti Kuliah Umum Babak ke-1 pada Pekan Perkenalan Khutbatu-l-‘Arsy (14/7/2024). Seluruh santri duduk rapi dengan mejanya masing-masing lengkap bersama alat tulisnya guna mencatat apa yang akan disampaikan Pimpinan Pondok.

Pada Kuliah Umum babak ke-1 ini diisi oleh Direktur KMI al-Ustadz H. Deni Muchlasin, B.A dan Direktur Wakaf al-Ustadz Galih Arum, Am. D. Ustadz Deni menyampaikan tentang Motto Pondok Modern Darussalam Sukaraja yang juga merujuk pada Motto PM Darussalam Gontor, yaitu: Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, UKhuwwah Islamiyyah, dan Kebebasan.

Satu persatu beliau menjelaskan secara detail motto PM Darussalam Sukaraja. Yang dimaksud keikhlasan adalah bahwa semua guru-guru di pondok ini ikhlas dalam mengajar dan membantu pondok. Rela meninggalkan tugas lain demi berjalannya kegiatan di pondok. Jika santri ikhlas, guru ikhlas, maka ilmu akan mudah didapatkan. Keikhlasan itu kunci utama berkembangnya suatu lembaga pendidikan.

Motto yang kedua yaitu kesederhanaan. Sederhana itu bukan berarti miskin. Sederhana itu sesuai dengan kebutuhan. Semua santri di pondok ini memakai pakaian yang sederhana dan tidak neko-neko. Makanan juga sesuai dengan porsinya. Tidak daging setiap hari, ataupun tidak sayuran setiap hari. Semuanya sudah ditakar sesuai dengan kebutuhan santri dan memang tujuannya mendidik santri untuk hidup serba sederhana. Karena jika kita terbiasa dengan hidup mewah dari kecil sampai besar, maka akan kaget ketika diberikan hidup sederhana.

Ketiga, berdikari. Berdikari adalah berdiri di atas kaki sendiri. Artinya, harus mandiri dalam hal apapun. Anak-anak di rumah mungkin bajunya masih dicucikan oleh orang tua atau mesin cuci. Di sini, harus nyuci sendiri. Maka, di sini kita harus melakukan semua hal sendiri dengan proses pembelajaran tentunya.

Keempat, ukhuwwah islamiyyah. Di pondok ini santrinya berasal dari berbagai daerah. Semuanya punya latar belakang yang berbeda. Tapi di pondok ini kita disatukan dengan ukhuwwah islamiyyah. Kita bersaudara, makanya kita harus saling menolong dan belajar sifat, karakter dari teman kita yang berbeda. Ukhuwwah ini sangat penting karena akan sangat berguna bagi kita saat kita menjalani kehidupan kita di masyarakat.

Kelima, kebebasan. Pondok ini memberikan kebebasan bagi santri dan alumninya untuk memilih jalan hidupnya. Tapi perlu diingat, bahwa jalan yang dimaksud di sini adalah jalan yang masih sesuai dengan syariat Islam. Bukan jalan yang melenceng. Misalnya, ada santri yang latar belakang keluarganya dari ormas NU. Maka, saat sudah alumni nanti, santri tersebut dipersilakan untuk berjuang di ormas tersebut.

Selanjutnya, materi diisi oleh al-Ustadz Galih Arum, Am.D., selaku Direktur Wakaf. Beliau dengan semangat menggebu memberikan motivasi bagi seluruh santri Pondok Modern Darussalam Sukaraja. Dari santri baru kelas 1 hingga kelas 6, bahkan motivasi bagi asatidz pengabdian.

Ustadz Galih bercerita bagaimana awal mula mondok di Gontor yang tanpa bekal pendidikan agama. Dari keterbatasan kemampuan pada materi Imla saat itu, bacaan al-Qur’an yang masih terbata-bata, hingga belajar bahasa arab dan inggris. Semuanya bermodalkan mahfudzat pertama yang diajarkan di keals 1 yaitu: man jadda wajada. Dari situlah beliau bersungguh-sungguh hingga akhirnya sampai lulus husnul khotimah dengan berbagai rintangan dan cobaan yang menerpa.

Untuk asatidz pengabdian, beliau bercerita juga bagaimana beliau ditempatkan di Pondok Al-Mizan Rangkasbitung. Beliau yang memang dari awal belum menguasai bahasa inggris secara baik, namun dituntut untuk mengajar bahasa inggris di pondok tempat pengabdian beliau. Akhirnya, karena modal kesungguhan, beliau saat ini menguasai bahasa inggris. Bahkan, di Pondok Modern Darussalam Sukaraja beliau menjadi pengajar materi grammar dan reading tetap bagi seluruh santri.

Kuliah Umum Babak ke-1 berjalan dengan lancar dan seluruh santri menyimak dengan serius kemudian diakhiri dengan doa oleh al-Ustadz Ahmad Kali Akbar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *